Hei, tahukah kalian, saat aku menulis catatan ini, pada waktu itu sudah H-9 menuju Ujian Nasional. Aku juga nggak tau mau nulis apa? Tapi yang jelas aku hanya ingin mengungkapkan rasa ketakutanku untuk kehilangan sosok ‘sahabat’, rasa sedihku untuk menerima kenyataan kalau ini memang harus kuhadapi, rasa haruku ketika ku ingat kembali masa-masa itu, dan rasa banggaku telah memiliki sahabat seperti kalian. Sungguh, siapa yang menginginkan perpisahan? Tak ada, bukan? Hanya saja itu sudah sebuah takdir, semacam paket yang telah ditentukan “pertemuan-perpisahan”. Sejenak terlintas memori bagaimana awal kisah kita, bagaimana cerita kita, bagaimana tentang perasaan kita, hingga detik-detik perpisahan ini. Entahlah, sahabat! Sungguh aku tak bisa membayangkan bagaimana kita nantinya, yang ku tahu hanyalah ‘kita berpisah’, dan itu sudah cukup membuatku harus tegar menerima kenyataan ini, ya, inilah yang harus ku hadapi, aku harus tetap melangkah demi masa depanku dan masa depan kalian juga. Yang kutahu hanyalah ‘kita tak lagi seperti dulu’, ya, tentu semua kejadian indah yang kita alami beberapa waktu belakangan ini takkan pernah terulang lagi! Dan yang ku tahu hanyalah ‘kita beranjak dewasa’. Aku tak mengharapkan kedewasaan hadir dengan cepat dalam diriku dan diri kalian, karena sahabat, dengan cepatnya kita tahu arti hidup, maka kurasa begitu singkat waktu untuk kita melakukan hal-hal bodoh, waktu untuk kita berlari-larian entah mengejar apa, waktu kita terbahak-bahak entah menertawakan apa, dan hei, waktu kita untuk merengek karena dimarahi orangtua, diputusin pacar, bertengkar dengan kawan, dengan guru, dan oh…begitu banyak hal-hal sepele yang kita tangisi. Dan itulah mengapa aku takut untuk beranjak dewasa.
Sahabat…mungkin waktuku tak banyak untuk kalian selama ini, mungkin lisanku telah melukai hati kalian, dan mungkin perbuatanku telah menyinggung kalian. Tapi percayalah padaku, sungguh aku tak ingin berkhianat dengan hatiku, bahwasanya aku sayang terhadap kalian, aku mengajukan proposal kalian ‘sahabatku’ kepada hati nuraniku, dan tentu ia dengan senang hati menerima kalian di sisinya, memberikan ruang kosong miliknya untuk diisi oleh kalian. Kalian mengerti maksudku, kan?
Sahabat…tak pernah aku menginginkan perpisahan ini terjadi, tapi apalah nian dayaku ini? Aku hanya seorang manusia biasa yang juga hanya bisa menerima garis tanganku. Jika aku bisa menentukan semua yang terjadi, tentu aku ingin terus bersama kalian. Hah, tapi itu tak mungkin, sahabat! Aku sendiri, dikamar kecilku ini, sumber inspirasiku, kini aku tengah menangisi akan perpisahan kita, sembari jari-jariku menari menuliskan kisah kita di atas keyboard, otakku berfikir, tak terlalu keras memang, karena memori itu mudah saja kembali diingatanku saat ini. Aku telah terbiasa bersama kalian, aku telah terbiasa bercerita kepada kalian, aku telah terbiasa mendengarkan curhatan kalian, dan aku telah terbiasa menjalani hariku bersama kalian. Tapi sahabat, saat perpisahan itu merenggut kebersamaan kita, sesungguhnya aku tak ingin, tak ingin, tak ingin, dan tak ingin itu terjadi. Namun tetap tak bisa kuhindari, tetap tak bisa ku elak, karena aku juga pernah mendengar kata-kata seperti ini :
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampong halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.
Merantaulah! Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah! Manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Sahabat, pepatah itu seperti tak senang melihat kita selalu bersama, tapi kurasa itu benar, kita harus mengejar mimpi indah kita, yah, cita-cita kita! Dan demi itu semua, kita harus berpisah. Tapi tak perlulah kau takut, sahabat! Di luar sana nanti, pastilah kau akan mendapatkan pengganti diriku, begitu halnya denganku nantinya, aku juga akan mendapatkan pengganti kalian. Meski tak sama, meski tak seperti kalian, percayalah itu ada baiknya, dan jangan pulalah kau ataupun aku sendiri melupakan yang dulu telah ada.
Hei, ini apa? Sudah beberapa kali buliran bening ini jatuh membasahi jemariku yang asyik menari memaparkan catatan kecil ini. Oh, Tuhaaaan…. Ini hari apa? Berapa hari lagi sisa waktuku untuk bersama mereka ‘sahabatku’?? jika ada yang bilang penakut itu pecundang, maka biarlah aku dianggap pecundang! Aku memang takut untuk kehilangan kalian, aku memang takut untuk menerimanya…
Dan hei, hei… jangan menangis saat membaca catatan ini, sahabat! Aku tak ingin kalian menangisinya, tapi aku ingin kalian tersenyum membaca ini J karena dengan tulisan ini, aku telah mengungkapkan perasaanku kepada kalian yang dalam kenyataannya aku tak pernah bicara mengenai hal ini, karena pada nyatanya aku berpura-pura kuat menghadapi ini, dan tentu saat ini kalian sudah tau kan apa yang kini tengah melanda perasaanku?
Sudahlah, sahabat! Mungkin untuk menceritakan segala kisah kita, memaparkan apa yang sedang kurasa, dan segalanya, kurasa tak cukup waktu untuk memindahkannya dari otakku ke catatan ini. Hitunglah sendiri sudah berapa lama kita saling kenal? Sudah berapa lama kita bersama? Dan lagi-lagi, kurasa itu cukup untuk kita merasakan saling berkasih sayang, untuk kita saling menghapus airmata, untuk kita saling melompat bahagia, dan untuk kita saling berpelukan erat.
Kini dalam usiaku menuju 18 tahun, sedikit banyak aku telah melewati masa-masa bahagia menjadi pelajar berseragam putih-abu, sedikit banyak aku telah merasakan masa-masa kritis menjadi pelajar yang melanggar peraturan, dan sedikit lebih banyak, aku mengerti makna persahabatan dan pengorbanan. Ku ucapkan seribu terima kasih kepada kalian, sahabat! Terima kasih telah ikut serta dalam menghiasi hariku, dan telah menjadi salah satu warna dalam pelangi yang mewarnai hariku.
Kembali lagi, mau tak mau, dan memang harus mau, siap tak siap dan memang harus siap, aku harus mau dan siap berpisah dengan kalian. Lebih lantang, AKU HARUS MAU DAN SIAP BERPISAH DENGAN KALIAN! Lagi, AKU HARUS MAU DAN SIAP BERPISAH DENGAN KALIAN!! Sekali lagi, AKU HARUS MAU DAN SIAP BERPISAH DENGAN KALIAN!!! Dan untuk terakhir kalinya, AKU HARUS MAU DAN SIAP BERPISAH DENGAN KALIAN!!!!!!!!!!!!!
Selamat berpisah, selamat berjuang, selamat menjalani kehidupan baru, selamat bertemu kawan baru, selamat bertemu kisah baru! Jaga diri baik-baik dimanapun berada, ingatlah ada orang tua dan kerabat yang mengharapkan kita untuk tidak mengecewakannya. Senantiasa beriman kepada Allah SWT, karena Dia-lah yang telah mempertemukan kita, dan Dia jua-lah yang akan memisahkan kita….
Say goodbye to my best friend are beloved : Ana Dilla Putri, Dilla Boenita, Devi Sasmalinda, Dian Vinel Susti, Widia Sari, Anita Sari, dan SELURUH ANGGOTA K-E-L-A-T-I-S. I <3 U IMU SM!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar